Penelitian Kesulitan Belajar

Kesulitan Belajar Bahasa

Teori

Hakikat Bahasa dan Wicara

Bahasa merupakan suatu system komunikasi yang terintergrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca dan menulis. Suatu ekspresi bahasa dalam bentuk wicara merupakan bentuk penyampaian bahasa dengan menggunakan organ wicara.

Menurut Owens (1984:379) bahasa merupakan kode atau system konvensional yang disepakati secara social untuk menyajikan berbagai pengertian melalui penggunaan symbol-simbol sembarang dan tersusun berdasarkan aturan yang telah ditentukan.

Menurut ASHLA ( American Speech-Language-Hearing Assosiation) ada tiga komponen wicara, yaitu: (1) Artikulasi, (2) suara, dan (3) kelancaran. Berdasarkan tiga macam komponen tersebut, maka kesulitan wicara juga mencakup kesulitan dalam artikulasi, penyuaraan, dan kelancaran. Komponen artikulasi berkenaan dengan kejelasan pengujaran kata,; komponen suara berkenaan dengan nada, kenyaringan, dan kualitas wicara; dan komponen kelancaran berkenaan dengan kecepatan wicara.

Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu (1) fonem, (2) morfem, (3) sintaksis, (4) semantic, (5) prosodi, dan (6) pragmatic. Fonem adalah satuan terkecil dari bunyi ujaran. Morfem merupakan unit terkecil dalam bahasa yang mengandung makna. Sintaksis berkenaan dengan tata bahasa, yaitu bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat. Prosodi berkenaan dengan penggunaan irama yang layak, intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa. Dan pragmatic berkenaan dengan cara menggunakan bahasa dalam situasi social yang sesuai.

Perkembangan Bahasa Anak Normal

Ada tiga komponen bahasa, yaitu (1) isi, (2) bentuk, dan (3) penggunaan bahasa. Perkembangan bahasa terjadi secara berkesinambungan dari sejak berusia satu tahun hingga mampu mengintergrasikan ketiga komponen tersebut.

Perkembangan isi dan bentuk bahasa

Ada tiga hal yang perlu dibahas dalam perkembangan isi dan bentuk bahasa anak, yaitu: pembendaharaan kata, struktur semantic-sintaksis, dan variasi dan kompleksitas bahasa.

1)      Pembendaharaan kata

Pada usia dua tahun, anak biasanya telah mulai mengucapkan kata-kata dan memahami makna dari kata-kata tersebut. Pada umumnya mereka mulai berbicara satu kata dan menggunakan kata tersebut untuk berbagai maksud. Anak mempelajari kata-kata secara berangsur-angsur dengan mencoba kata-kata tersebut ke dalam berbagai situasi. Tentu saja, dalam melakukan percobaan tersebut, anak sering menggunakan kata-kata yang tidak tepat. Biasanya saat usia ini, penggunaan kata tunggal berlanjut hingga menjadi sintaksis. Sementara itu, anak mulai belajar tentang semantic dan struktur sintaksis untuk kalimat yang lebih kompleks.

Pada periode ini, peranan orang tua sangat penting, mereka secara terus-menerus berkomunikasi verbal maupun gestural dengan anak. Melalui percakapan, orang tua sering meminta anak untuk mengucapkan kata-kata yang telah dikuasai kepada anggota keluarga lainnya, sehingga dengan demikian anak memperoleh lebih banyak ulangan penguatan (reinforcement) yang memungkinkan anak untuk lebih banyak berbicara. Anak berkesulitan belajar sering tidak memiliki situasi keluarga semacam itu, sehingga anak kurang memoliki kesempatan untuk mencoba kemampuan mereka dalam berbicara. Oleh karena itu, banyak anak berkesulitan belajar yang perkembangan bahasanya terhenti pada tahap ini sehingga memiliki kesulitan untuk berbicara secara lebih baik.

2)      Struktur Semantik-Sintaksis

Isi semantic kalimat-kalimat permulaan adalah informasi tentang hubungan antar berbagai objek, terutama mencakup kegiatan, temat, dan orang. Pada tahap ini anak mulai menggunakan frasa seperti “mama saya” dan “dimana ayah saya”. Berdasarkan kombinasi sederhana tersebut, strusktur sintaksis kalimat akan berkembang secara bertahap.

Struktur bahasa permulaan yang lain adalah penggunaan kata-kata yang sama dalam situasi yang berbeda-beda dan dengan bermacam-macam makna.

3)      Variasi dan Kompleksitas

Variasi dan kompleksitas merupakan dua cirri penting dari bahasa anak-anak. Mengenal variasi, anak-anak disamping menambah pembendaharaan kata juga aturan-aturan penggabungan dari tiap-tiap pengetahuan bahasa yang dimiliki yaitu, isi, bentuk, dan penggunaan.

Banyak anak berkesulitan belajar yang lambat dalam mengembangkan kata-kata baru atau yang berbeda. Kompleksitas terjadi ketika kalimat-kalimat anak menjadi lebih panjang. Pada mulanya anak-anak menggabungkan hubungan semantic-sintaksis yang muncul dalam ucapan-ucapan paling awal. Selanjutnya, anak-anak menggabungkan kalimat-kalimat sederhana dengan kata penghubung.

Perkembangan penggunaan bahasa

Ada tiga hal yang perlu dibahas tentang penggunaan bahasa, yaitu fungsi, hubungan antar pemahaman dengan bicara, dan bahasa sebagai suatu proses sepanjang kehidupan.

1)      Fungsi

Fungsi merupakan aspek yang bermakna dalam bahasa, yaitu berbagai hal yang dilakukan oleh orang dengan bahasa. Aspek lain adalah keharusan melaksanakan berbagai aturan yang diperlukan pembicara untuk memilih bentuk dan susunan yang tepat untuk mencapai tujuan komunikasi.

Dari usia 3 tahun, anak menjadi lebih sadar akan banyaknya fungsi bahasa dan penggunaannya. Anak yg lebih banyak memperoleh kesempatan untuk melakukan percakapan akan memperoleh kesempatan lebih banyak pula dalam menggunakan kata, bentuk, dan gaya. Tetapi sayangnya, anak-anak berkesulitan belajar tidak memperoleh keuntungan karena mereka sering enggan melakukan percakapan, dan jika mereka melakukannya, interaksi tersebut hanya dalam waktu yang singkat dan cenderung pada tingkat percakapan yang rendah.

2)      Hubungan antara pemahaman dan percakapan

Para guru dan orang tua sepakat bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kata-kata yang didengar oleh anak-anak dengan yang mereka katakan. Sambil menyimak dan memahami perkataan orang lain, anak-anak mulai memahami makna dan maksud dari berbagai kata dan frasa. Selanjutnya, orangtua atau teman bicara yang komunikatif pada saat mendengar berbagai kata dan frasa tersebut bereaksi dengan cara memperbaiki bicara anak.

3)      Bahasa sebagai proses sepanjang kehidupan

Manusia dalam mengembangjan kemampuan berbahasa hamoir sepanjang kehidupan mereka. Selama seorang individu mendengarkan berbagai percakapan yang lebiih baik, maka individu tersebut akan memiliki kesempatan untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau meningkatkan kemampuan mereka dalam berbahasa.

 

Kesulitan Belajar Bahasa dan Asesmennya

Kesulitan Belajar Bahasa

Menurut Lovitt (1989: 151), ada berbagai penyebab kesulitan belajar bahasa, yaitu :

Kekurangan Kognitif

Ada tujuh jenis kekurangan kognitif, yaitu (1) Kesulitan memahami dan membedakan makna bunyi wicara, (2) Pembentukan konsep dan pengembangannya ke dalam unit semantic, (3) Mengklasifikasi kata, (4) Kesulitan dalam Relasi Sistematik, (5) Kesulitan dalam memahami system semantic, (6) Transformasi Semantik, (7) Implikasi Semantik..

Kekurangan Dalam Memori

Hasil penelitian menunjukan bahwa anak berkesulitan belajar sering memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Kekurangan ini dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Mereka sering memperlihatkan adanya kekurangan khusus dalam mengulang urutan fonema mengingat kembali kata-kata, mengingat symbol dan memahami hubungan sebab-akibat.

Kekurangan Kemampuan Melakukan Evaluasi/Menilai

Anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan dalam menilai kemantapan atau keajegan arti suatu kata baru terhadap informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya. Akibatnya anak mungkin menerima saja kalimat atau kata yang salah.

Kekurangan Kemampuan Memproduksi Bahasa

Hasil penelitian Idol-Meatas (Lovitt, 1989) menunjukkan bahwa bahasa anak-anak berkesulitan belajar mengandung lebih sedikit kata-kata bermakna daripada anak-anak yang perkembangan bahasanya normal.

Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa, yaitu kemampuan produksi konvergen dan kemampuan produksi devergen.

Kekurangan Pragmatik

Anak berkesulitan belajar umumnya memperlihatkan kekurangan dalam mengajukan berbagai pertayaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan, menjaga atau mempertahankan percakapan dan mengajukan sanggahan berdasarkan argumentasi yang kuat.

Asesmen Kemampuan Berbahasa

Ada dua macam jenis asesmen, yaitu asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal telah dibakukan sedangkan asesmen informal sering tidak dibakukan. Asesmen formal bahasa Indonesia belum banyak dikembangkan karena kajian tentang kesulitan belajar masih berada pada tahap permulaan. Untuk mengatasi kondisi yang menguntungkan tersebut, tes bahasa Indonesia digunakan sebagai alat asesmen. Tes konsep-konsep dasar ciptaan Boehm (Boehm Test of Basic Concept) (Boehm, 1970) merupakan salah satu intrumen asesmen formal yang dapat diadopsi di Indonesia khususnya anak usia sekolah permulaan. Tes tersebut dirancang untuk mengevaluasi pengetahuan dan pemahaman anak tentang konsep dasar kuantitas, ruang, waktu dan kombinasi aspek-aspek.

Asesmen informal atau evaluasi percakapan spontan, guru dapat melakukan percakapan dengan anak tentang berbagai hal yang disukai anak. Dengan demikian guru dapat mengetahui berbagai kesalahan bahasa yang dibuat oleh anak dan berdasarkan kesalahan tersebut guru dapat melakukan tindakan korektif atau interventif.

Remediasi

Menurut Lovitt (1989; 165), ada lima macam pendekatan remediasi bagi anak kesulitan belajar bahasa, yaitu :

  1. Pendekatan Proses
  2. Pendekatan Analisis Tugas
  3. Pendekatan Behavioral
  4. Pendekatan Interaktif-Interpersonal
  5. Pendekatan Sistem Lingkungan Total

 

Study Case

Identitas Subyek

Nama  : Aulia Nur Julianti (Anti)

Jenis Kelamin   : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir     : Jakarta, 8 Juli 2002

Usia   : 9 Tahun

Agama    : Islam

Nama Ayah    : Aguslim

Pendidikan Ayah   : SLTA

Pekerjaan Ayah    : Karyawan Swasta

Suku/Agama    : Sumatra / Islam

Nama Ibu     : Susilawati

Pendidikan Ibu   : Strata 1

Pekerjaan Ibu   : Guru Taman Kanak-kanak

Suku/Agama     : Jawa / Islam

Alamat    : Jalan Dewa Ujung Rt 012/07 No 1 Ciracas Jak-Tim

 

Gambaran Keluarga

S adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki seorang adik laki-laki. ibu subjek bekerja disebuah Taman Kanak-kanak di TK Negeri, menjadi seorang guru. Ayah subjek bekerja di sebuah perusahaan swasta. Hubungan antara S dengan adik dan orangtuanya sangat baik.

Orang tua S adalah orang tua yang baik dan perhatian terhadap anak-anaknya. Mereka selalu menggunakan waktu libur untuk dihabiskan bersama kedua anaknya. Orang tua S adalah orang tua yang dapat menerima kondisi anak pertamanya yang mengalami kesulitan bahasa. Ayah dan ibunya sangat berperan dalam membantu anaknya. Mereka terus berusaha membantu anaknya dengan mengikutkan S terapi-terapi dan rajin mencari informasi untuk membantu perkembangan anaknya, namun mereka tetap tidak melakukan pemaksaan terhadap S. S diberi kesempatan untuk melakukan hal yang ia inginkan.

Gambaran Pendidikan

Saat Usia 5 tahun subyek bersekolah di salah satu TK didaerah Jakarta Selatan yang sangat membantu karena disekolah tersebut merupakan sekolah inklusi yaitu sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar bersama dengan anak normal lainnya. Disana subyek dapat perhatian khusus sehingga S dapat mengembangkan  potensinya yang ada dalam dirinya walaupun memerlukan waktu yang lebih lama disbanding anak normal lainnya.

Pada usia memasuki sekolah dasar S pernah ditolak untuk masuk disekolah regular dikarenakan para pendidik disana tidak mau bersusah payah menangani anak berkebutuhan khusus. Akhirnya S mendapatkan sekolah swasta yang mau menerima S bersekolah disana. Adapun guru-guru disana sangat memperhatikan perkembangan masing-masing siswa terutama S. Sehingga S dan orang tuanya sangat nyaman. S mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah.

Saat ini subyek telah duduk dikelas 2. Dikelas 2 S mendapat kendala yaitu guru tidak memahami dan tidak mau berusaha untuk membantu S dikarenakan guru tersebut tidak memliki pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus. Namun, S tetap semangat dan tidak pernah mengeluh dengan kondisi tersebut. Hanya terkadang S merasa kelelahan dengan tugas/ PR yang seharusnya tugas tersebut diberikan untuk anak-anak yang normal.

Kedua orang tuanya telah menanamkan nilai keagamaan dengan baik pada S sehingga S tersebut mampu dan dapat menjalani pelajaran agama dengan baik dibandingkan anak-anak normal seusianya.

Ciri-Ciri

Awalnya tidak begitu terlihat, namun saat belajar S membutuhkan pengulangan hingga 2 sampai 5 kali dari anak-anak normal. S susah membedakan huruf d, b, p, g. S juga sulit untuk menyatukan kata-kata dan memahami kata-kata tersebut. Subjek juga suka menghilangkan beberapa suku kata.

Penyebab

Sebelumnya, S adalah anak yang periang dan terlihat lincah. Namun saat usia 9 bulan, subjek mengalami sakit panas tinggi selama satu minggu. Setelah sakitnya menurun, perkembangan S mulai terlihat lamban terutama dalam berjalan dan berbicara.

Penanganan yang Sudah Di Lakukan

S mengikuti Terapi Behavior, Terapi untuk keseimbangan dan Terapi Wicara di Lentera Insan, Depok. S mulai mnegikuti terapi keseimbangan tidak lama, hanya beberapa bulan saja. S mengikuti terapi behavior hingga kelas 2 SD, dan berhenti karena S mulai mengikuti kegiatan-kegiatan les di sekolahnya. Kini, S hanya mengikuti terapi dirumah yang dibantu oleh ibunya. Seperti belajar huruf-huruf dan merangkai kata-kata.

Selain S mengikuti berbagai terapi diluar rumah, sang ibu juga membantu S dengan setiap malam saat sebelum tidur, selalu meluangkan waktu untuk mengajak kedua anaknya bermain dengan huruf-huruf dan menggabungkan mejadi sebuah kata. Hal itu merupakan terapi yang diberikan sang ibu untuk S dirumah, dengan harapan S bisa mengalami perkembangan dalam kesulitannya.

Kesimpulan

S adalah anak yang periang dan lincah, namun perkembangannya mulai menurun sesaat setelah subjek mengalami sakit hingga suhu tubuh S panas tinggi. Subjek mengalami penurunan dalam perkembangan berjalan dan bicaranya. Awalnya gejala tidaklah begitu terlihat, namun saat di Taman Kanak-kanak, subjek sulit untuk belajar hingga harus melalukan pengulangan 2 hingga 5 kali, dan subjek pun sulit untuk membedakan antara huruf d, b, p, dan g. S mengikuti terapi keseimbangan, terapi wicara dan terapi behavior, namun semua terapi hanya dilakukannya tidak lama. Kini S hanya terapi di rumah dibantu dengan ibunya. Hingga kini, S masih mengalami kesulitan belajar bahasa dan orangtuanya masih terus mengupayakan untuk membantu anaknya.

Saran

Menurut kelompok kami, S seharusnya tetap diikutkan terapi wicara, karena S yang masih kelas 2 SD, masih bisa dilakukan penanganan khusus dan belum terlalu sulit untuk dilakukannya penanganan yang lebih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s