PENGARUH STRES PADA MAHASISWA DALAM MENYUSUN SKRIPSI DI UPI YAI JAKARTA

Diajukan Oleh :

Trias Priyanti

NIM : 0824090407

Telah Disetujui :

Pada Tanggal : ____________

FAKULTAS PSIKOLOGI UPI YAI

               Mengetahui

Dekan                                                                                         Dekan Eksekutif,

(I Nyoman Surna, Psi, Mpsi)                          (Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono)

PENGARUH STRES MAHASISWA DALAM MENYUSUN SKRIPSI DI UPI YAI JAKARTA

USULAN PENELITIAN

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi

Universitas Persada Indonesia YAI

Untuk Menyusun Skripsi S1

Oleh :

Trias Priyanti

NIM : 0824090407

Telah Disetujui :

Pada Tanggal : ____________

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA YAI

JAKARTA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah

Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program sarjana (S1) pada masa akhir studinya berdasarkan hasil penelitian, kajian kepustakaan, atau pengembangan tentang sesuatu masalah yang dilakukan dengan seksama (Darmono,Ani M. Hasan, Tahun 2002, h.xi). Skripsi adalah karya ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis i Perguruan Tinggi (Poerwadarminta,1983, h. 957). Semua mahasiswa wajib mengambil mata kuliah tersebut, karena skripsi      digunakan sebagai salah satu prasyarat bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar akademisnya sebagai sarjana. Mahasiswa yang menyusun skripsi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan proses belajar yang ada dalam penyusunan skripsi. Prosesbelajar yang ada dalam penyusunan skripsi berlangsung secara individual, sehingga tuntutan akan belajar mandiri sangat besar. Mahasiswa yang menyusun skripsi dituntu tuntuk dapat membuat suatu karya tulis dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum.

Adapun masalah-masalah yang umum dihadapi oleh mahasiswa dalam menyusun skripsi adalah, banyaknya mahasiswa yang tidak mempunyai kemampuan dalam tulis menulis, adanya kemampuan akademis yang kurang memadai, serta kurang adanya ketertarikan mahasiswa pada penelitian (Slamet, 2003). Kegagalan dalam penyusunan skripsi juga disebabkan oleh adanya kesulitan mahasiswa dalam mencari judul skripsi, kesulitan mencari literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, serta adanya kecemasan dalam  menghadapi dosen pembimbing (Riewanto, 2003). Apabila masalah-masalah tersebut menyebabkan adanya tekanan dalam diri mahasiswa maka dapat menyebabkan adanya stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa. Gejala stres yang ditunjukkan oleh mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di Universitas Persada Indonesia YAI antara lain banyaknya keluhan mahasiswa mengenai sakit kepala yang sering mengganggu aktivitas sehari-hari, keluhan mengenai gangguan tidur berupa kesulitan tidur, sering terlihat cemas, sering terlihat mudah marah, dan ada beberapa mahasiswa    yang menunjukkan gejala gangguan daya ingat yang ditunjukkan dengan seringnya       mahasiswa lupa pada janji bimbingan dengan dosen pembimbing dan janji dengan teman.

Stres sebagai ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia tersebut (Jones and Bartlett, tahun 1994, h. 2). Tetapi, tidak semua stress itu buruk. Kenyataannya, banyak orang yang setuju kalau kita memang membutuhkan stress sampai derajat tertentu agar kita tetap sehat. Namun bagaimana stress bisa menjadi sesuatu yang baik? Apabila stress dianggap sebagai sebuah motivasi positif, stress dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan. Apabila melebihi poin optimal yang menguntungkan ini, stress lebih membawa keburukan daripada kebaikan (Jones and Bartlett, tahun 1994, h. 3).

 

B.     Rumusan Masalah dan Pokok Bahasan

1.      Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang diuraikan sebagai berikut :           Bertitik tolak pada latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut adalah “Apakah ada pengaruh antara skripsi dengan stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa di Universitas Persada Indonesia YAI Salemba, Jakarta?”

2.      Pokok Bahasan

Berdasarkan uraian di atas, maka pokok bahasan yang diuraikan meliputi;

Stres : gangguan dan emosional yg disebabkan oleh faktor luar, atau terjadi ketegangan pada individu.

Skripsi mahasiswa : karya ilmiah yang dituliskan mahasiswa S1 diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis di Perguruan Tinggi

3.      Tujuan Penelitian

Dengan dilakukannya penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahiu bagaimana hubungan antara pengaruh stres yang terjadi pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di Universitas Persada Indonesia YAI Salemba, Jakarta.

4.      Manfaat penelitian

Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dan kontribusi bagi psikologi khususnya psikologi klinis tentang salah satu faktor yang mempengaruhi stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa.

Dari segi praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa. Informasi tersebut diharapkan  dapat mendorong mahasiswa  untuk meningkatkan  efektivitas dalam menyusun skripsinya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Stress

  1. Definisi

Sarafino (1994, h. 74) menyatakan bahwa stres adalah kondisi yang  disebabkan  oleh  interaksi  antara  individu dengan  lingkungan, menimbulkan  persepsi  jarak  antara  tuntutan-tuntutan,  berasal  dari situasi  yang bersumber pada  sistem biologis, psikologis dan  sosial dari  seseorang.   Stres muncul  sebagai akibat dari adanya  tuntutan yang  melebihi  kemampuan  individu  untuk  memenuhinya. Seseorang  yang  tidak  bisa  memenuhi  tuntutan  kebutuhan,  akan merasakan  suatu  kondisi  ketegangan dalam diri. Ketegangan  yang berlangsung  lama  dan  tidak  ada  penyelesaian,  akan  berkembang menjadi stres. Sesuai dengan Sarafino, Hardjana  (1994, h. 14) menyatakan bahwa  stres  adalah  suatu  keadaan  atau  kondisi  yang  tercipta  bila interaksi antara individu yang mengalami tekanan dan keadaan yang dianggap mendatangkan tekanan, membuat individu melihat adanya ketidaksepadanan, antara keadaan atau kondisi dan sistem sumber daya biologis, psikis dan sosial yang ada pada diri individu.

Senada dengan pengertian di atas Bishop (1994, h. 127) menyatakan bahwa stres adalah interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan suatu tekanan dalam diri individu akibat adanya suatu tuntutan yang melebihi batas kemampuan individu untuk menghadapinya dan memberikan respon fisik maupun psikis terhadap tuntutan yang dipersepsi. Pengertian ini menekankan adanya tuntutan pada diri seseorang yang melebihi kemampuannya, dan adanya proses persepsi yang dilakukan oleh individu terhadap kejadian atau hal di lingkungan yang menjadi sumber stres.

Tekanan hidup yang berat tidak jarang membuat keseharian Anda diwarnai stres. Selain luapan emosional, tanda stres juga dapat terlihat pada kondisi fisik. Berikut, tanda-tanda fisik seseorang mengalami stres :

Mata Berkedut.

Beberapa ahli kesehatan menyakini, mata berkedut (blepharospasm) sebagai akibat seseorang mengalami stres. Jika mengalaminya, pejamkan mata Anda sejenak dengan santai. Lalu dengan mata tertutup berkahayallah berada di tempat menyenangkan, hati hingga membuat Anda tersenyum. Nikmati waktu sejenak guna merasa rileks. Setelah itu, buka mata Anda dan cobalah beraktivitas seperti biasa.

Sulit Konsentrasi.

Tidak dipungkiri lagi, stres bisa membuat seseorang sulit berkonsentrasi. Bahkan, memulai hal kecil seperti memilih menu makan malam. Agar kembali fokus, hentikan sejenak seluruh kegiatan dan buat pikiran Anda rileks kembali. Lakukan peregangan pada bagian kaki, agar pikiran lebih cemerlang. Pancaran sinar matahari juga bisa membantu tubuh melepaskan hormon pemicu stres serotonin, sehingga Anda bisa lebih moody.

Kutikula Kuku Terasa Kasar.

Beberapa wanita gemar menggigit kuku guna menghilangkan stres atau saat merasa gugup. Alhasil, kebiasaan buruk itu membuat permukaan kuku terlihat kasar. Untuk menghindarinya, cobalah gegam bola elastis dan remaslah saat Anda stres.

Otot Leher Menegang.

Menurut psikolog Elizabeth Lombardo, stres dapat memengaruhi bagian tulang, persendian, hingga otot otot leher bagian belakang menegang. Cara mengatasinya, lakukan latihan relaksasi dengan menarik napas dalam sebanyak lima hingga sepuluh kali. Lalu, fokuskan pikiran merelaksasi bagian leher secara perlahan. Atau, mintalah bantuan pasangan memijat lembut leher Anda.

Faktor –Faktor Penyebab Stres

Menurut dr.  LA Hartono, th. 2007 faktor-faktor penyebab stress antara lain :

  1. Tekanan fisik : kerja otot/olahraga yang berat, kerja otak yang terlalu lama, dan sebagainya.
  2.  Tekanan psikologis : hubungan suami-istri, orang tua-anak, persaingan antar saudara-teman kerja, hubungan social lainnya, etika moral, dan sebagainya.
  3. Tekanan social ekonomi : kesulitan ekonomi, rasialisme, dan sebagainya
  1. Aspek-Aspek Stres

Menurut Sarafino (1994, h. 79) ada dua antara lain:

Aspek Biologis

Aspek biologis dari stres berupa gejala fisik. Gejala fisik dari stres yang dialami individu antara lain: sakit kepala, gangguan tidur, gangguan pencernaan, gangguan makan, gangguan kulit dan produksi keringat yang berlebihan.

Aspek Psikologis

Aspek psikologis dari stres berupa gejala psikis. Gejala psikis dari stres antara lain:

1)      Gejala kognisi

Kondisi stres dapat menganggu proses pikir individu. Individu yang mengalami stres cenderung mengalami gangguan daya ingat, perhatian dan konsentrasi.

2)      Gejala emosi

Kondisi stres dapat menganggu kestabilan emosi individu. Individu yang mengalami stres akan menunjukkan gejala mudah marah, kecemasan yang berlebihan terhadap segala sesuatu, merasa sedih dan depresi.

3)       Gejala tingkah laku

Kondisi stres dapat mempengaruhi tingkah laku sehari-hari yang cenderung negatif sehingga menimbulkan masalah dalam hubungan interpersonal.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres

Faktor-faktor yang mempengaruhi stres menurut Smet (1994, h. 130-131) antara lain:

Variabel dalam diri individu

Variabel dalam diri individu meliputi: umur, tahap kehidupan, jenis kelamin, temperamen, faktor genetik, inteligensi, pendidikan, suku, kebudayaan, status ekonomi.

  1. Karakteristik kepribadian

Karakteristik kepribadian meliputi: introvert-ekstrovert, stabilitas emosi secara umum, kepribadian ketabahan, locus of control, kekebalan,  ketahanan.

Variabel sosial-kognitif

Variabel sosial-kognitif meliputi: dukungan sosial yang dirasakan, jaringan sosial,         dan kontrol pribadi yang dirasakan.

Hubungan dengan lingkungan sosial

Hubungan dengan lingkungan sosial adalah dukungan sosial yang diterima dan            integrasi dalam hubungan interpersonal.

Strategi koping

Strategi koping merupakan rangkaian respon yang melibatkan unsur-unsur pemikiran untuk mengatasi permasalahan sehari-hari dan sumber stres yang menyangkut tuntutan dan ancaman yang berasal dari lingkungan sekitar.

 

B.     Skripsi Mahasiswa

  1. Definisi

Skripsi adalah karya ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis di Perguruan Tinggi (Poerwadarminta, 1983, h. 957). Semua mahasiswa wajib  mengambil mata kuliah tersebut, karena skripsi digunakan sebagai salah satu prasyarat bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar akademisnya sebagai sarjana. Mahasiswa yang menyusun skripsi dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan proses belajar yang ada dalam penyusunan skripsi. Proses belajar yang ada dalam penyusunan skripsi berlangsung secara individual, sehingga tuntutan akan belajar mandiri sangat besar. Mahasiswa yang menyusun skripsi dituntut untuk dapat membuat suatu karya tulis dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara umum. Peran dosen dalam pembimbingan skripsi hanya bersifat membantu mahasiswa mengatasi kesulitan yang ditemui oleh mahasiswa dalam menyusun skripsi (Redl & Watten, 1959, h. 299).

1. Karakteristik Skripsi

Beberapa karakteristik pokok yang perlu dimiliki dalam penyusunan skripsi mahasiswa, antara lain :

a)      Disusun berdasarkan hasil kajian literatur dan atau pengamatan lapangan.

b)      Ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan ejaan yang disempurnakan.

c)      Bidang kajian difokuskan kepada permasalahan ekonomi dan upaya pemacahannya, baik dalam lingkup mikro maupun makro.

2. Sistematika Skripsi

Skripsi yang disusun mahasiswa terdiri dari tiga bagian pokok seperti berikut ini.

  1. Bagian Persiapan
  • Sampul
  •  Halaman Judul
  • Halaman Pengesahan
  • Abstrak
  • Kata Pengantar
  • Daftar Isi
  • Daftar Tabel
  • Baftar Bagan (Gambar)
  1. Bagian Teks
  • BAB I. Pendahuluan
  • BAB II. Landasan Teori  (Diberi judul sesuai dengan isi Bab II)
  • BAB III. Metode Penelitian
  • BAB IV. Deskripsi data dan Pembahasan
  • BAB V. Kesimpulan dan Saran
  1. Bagian Akhir
  • Daftar Pustaka
  • Lampiran-lampiran
  • Daftar Riwayat Hidup
  1. Kendala Skripsi

Skripsi sering menjadi momok bagi mahasiswa, karena mahasiswa yang bersangkutan harus menyediakan waktu khusus untuk mengerjakannya sampai selesai. Bahkan, tidak sedikit dari para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi mengalami banyak kendala.

Adapun kendala-kendala yang umum dihadapi oleh mahasiswa dalam menyusun skripsi adalah, banyaknya mahasiswa yang tidak mempunyai kemampuan dalam tulis menulis, adanya kemampuan akademis yang kurang memadai, serta kurang adanya ketertarikan mahasiswa pada penelitian (Slamet, 2003). Kegagalan dalam penyusunan skripsi juga disebabkan oleh adanya kesulitan mahasiswa dalam mencari judul skripsi, kesulitan mencari  literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, serta adanya kecemasan dalam menghadapi dosen pembimbing (Riewanto, 2003). Apabila kendala-kendala tersebut menyebabkan adanya tekanan dalam diri mahasiswa maka dapat menyebabkan adanya stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa.

Selain itu, mahasiswa dapat disebut mengalami stres, ketika mahasiswa merasakan  adanya ketidakmampuan  dalam  menghadapi  sumber stres yang  ada  dan  menyebabkan tekanan  dalam  diri.  Mahasiswa yang sedang  menyusun  skripsi  mengalami  berbagai  masalah  yang dapat menghambat penyelesaian skripsi dan menyebabkan mahasiswa

 

C.    Stress pada Mahasiswa dalam Menyusun Skripsi

Berdasarkan uraian faktor-faktor yang mempengaruhi stres di atas, maka   faktor-faktor yang mempengaruhi stres dalam menyusun skripsi antara lain:

  1. Faktor internal:

1)      Jenis kelamin

Penelitian di Amerika Serikat menyatakan bahwa wanita cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan pria. Secara umum wanita mengalami stres 30 % lebih tinggi dari pada pria.

2)      Status sosial ekonomi

Orang yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah cenderung memiliki tingkat stres yang tinggi. Rendahnya pendapatan menyebabkan adanya kesulitan ekonomi sehingga sering menyebabkan tekanan dalam hidup.

3)      Karakteristik kepribadian mahasiswa

Adanya perbedaan karakteristik kepribadian mahasiswa yang sedang menyusun skripsi menyebabkan adanya perbedaan reaksi terhadap sumber stres yang sama. Mahasiswa yang memiliki kepribadian ketabahan memiliki daya tahan terhadap suber stres yang lebih tinggi dari pada mahasiswa yang tidak memiliki kepribadian ketabahan.

4)      Strategi koping mahasiswa

Strategi koping merupakan rangkaian respon yang melibatkan unsur-unsur pemikiran untuk mengatasi permasalahan sehari-hari dan sumber stres yang menyangkut tuntutan dan ancaman yang berasal dari lingkungan sekitar. Strategi koping yang digunakan oleh mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dalam menghadapi stres, berpengaruh pada tingkat stresnya.

5)       Inteligensi

Mahasiswa yang mempunyai tingkat inteligensi yang lebih tinggi akan lebih tahan terhadap sumber stres dari pada mahasiswa yang memiliki inteligensi rendah, karena tingkat inteligensi berkaitan dengan penyesuaian diri. Mahasiwa yang memiliki inteligensi yang tinggi cenderung lebih adaptif dalam menyesuaikan diri.

  1. Faktor eksternal :

1)      Tuntutan pekerjaan/ tugas akademik (skripsi)

Tugas akademik (skripsi) yang dianggap berat dan tidak sesuai dengan kemampuan individu dapat menyebabkan terjadinya stres.

2)      Hubungan mahasiswa dengan lingkungan sosialnya

Hubungan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dengan lingkungan sosialnya meliputi dukungan sosial yang diterima dan integrasi dalam hubungan interpersonal dengan lingkungan sosialnya.

 

D.    Hipotesis

Menurut kaitan yang telah diuraikan diatas maka, menurut penulis ada pengaruh stress dalam menyusun skripsi pada mahasiswa.

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel merupakan faktor yang berperan dalam gejala-gejala yang akan diteliti, di mana variabel tersebut ditentukan oleh landasan teoritisnya dan ditegaskan oleh hipotesis penelitiannya. Identifikasi variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Variabel bebas diartikan sebagai variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2003:3). Adapun variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel terikat (DV)   : Stress
  2. Variabel bebas  (IV)    : Skripsi pada mahasiswa

  1. Definisi Operasional Variabel-variabel Penelitian

Definisi operasional dalam hal ini adalah definisi yang memberikan batasan-batasan atau arti pada suatu variabel dengan merinci hal yang harus dikerjakan oleh peneliti untuk mengukur variabel tersebut (Kerlinger 1998:51).

Adapun definisi operasional mengenai variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

Stres : gangguan dan emosional yg disebabkan oleh faktor luar, atau terjadi ketegangan pada individu.

Skripsi mahasiswa : karya ilmiah yang dituliskan mahasiswa S1 diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis di Perguruan Tinggi

  1. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
    1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003:55). Populasi bukan
sekedar jumlah yang ada pada subyek atau objek yang dipelajari, tetapi meliputi
seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek tersebut. Populasi
dalam penelitian ini adalah mahasiswa di Universitas Persada Indonesia YAI.

  1. Metode Pengambilan Sampel

Setelah menentukan populasi maka langkah selanjutnya adalah menentukan sampel penelitian. Menurut Sugiyono (2003:56) sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan simple random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu Sugiyono (2003:56). Banyaknya sampel yang digunakan pada penelitian ini disesuaikan dengan rumus Nomogram Harry King. Jumlah populasi yang diambbil di Universitas Persada Indonesia YAI adalah sebanyak 30 orang.

  1. Metode Pengumpulan Data.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap variabel penelitian dengan menggunakan skala. Menurut Saifuddin Azwar (2003:4) karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi yaitu stimulusnya berupa pernyataan atau pertanyaan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dan atribut yang bersangkutan, dari indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk item-item dan respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar atau salah.

Pada penelitian ini skala yang digunakan adalah skala model Likert. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi komponen-komponen yang dapat terukur. Komponen-komponen yang terukur kemudian dijadikan titik tolak untuk menyusun item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan yang kemudian dijawab oleh responden.

Kategori jawaban pada skala terdiri dari lima kategori dengan tidak menghilangkan kategori netral. Hal ini dimaksudkan agar responden diberi kebebasan untuk memilih jawaban sesuai dengan dirinya tanpa ada paksaan.

Alternatif jawaban yang diberikan dengan pernyataan-pernyataan yang ada adalah Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Dengan  rincian bahwa pernyataan  favorable adalah pernyataan yang mendukung dimensi dan karakteristik dari variabel penelitian, sedangkan pernyataan yang unfavorable adalah pernyataan yang tidak mendukung karakteristik dari variabel penelitian. Adapun penilaian pada kelima alternatif jawaban tersebut ada pada tabel 3.1.

Tabel 1.1

Tabel Penilaian Skala Likert

Alternatif Jawaban

Favorable Unfavorable

Sangat Sesuai (SS)

5 1

Sesuai (S)

4 2

Netral (N)

3 3

Tidak Sesuai (TS)

2 4

Sangat Tidak Sesuai (STS)

1 5

Skala yang akan digunakan pada penelitian ini adalah:

Skala Pengaruh Stress

Skala ini terdiri dari item favorable dan item unfavorable. Seperti yang terlihat pada table 1.2

Blue Print

Skala Pengaruh Stress

No. Faktor Indikator Favoroble Unfavoroble

1

Internal

1)      Jenis kelamin

2)      Status sosial ekonomi

3)      Karakteristik kepribadian mahasiswa

4)      Strategi koping mahasiswa

5)      Suku dan kebudayaan

2

Eksternal

1)       Tuntutan pekerjaan/ tugas akademik (skripsi)

2)       Hubungan mahasiswa dengan lingkungan sosialnya

  1. E.     Metode Analisis Instrumen

Suatu alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli psikometri, yaitu kriteria validitas dan reliabilitas. Oleh karena itu agar kesimpulan tidak keliru dan tidak memberikan gambaran yang jauh berbeda dari keadaan yang sebenarnya, diperlukan uji validitas dan reliabilitas dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian.

  1. 1.      Validitas

Menurut Saifuddin Azwar (2000:99) validitas dalam pengertian yang paling umum adalah kecermatan skala dalam menjalankan fungsi ukurnya. Artinya sejauh mana skala itu mampu mengukur atribut yang dirancang untuk mengukurnya. Skala yang hanya mampu mengungkap sebagian dari atribut yang sebenarnya atau justru mengukur atribut lain, dikatakan sebagai skala yang tidak valid. Karena validitas sangat erat kaitannya dengan tujuan ukur. Maka setiap skala hanya dapat menghasilkan data yang valid untuk satu tujuan ukur pula. Untuk melihat nilai validitas suatu variabel dapat dilihat dari validitas item dan korelasi antar faktor.

  1. Uji validitas item

Uji validitas item berfungsi untuk mengukur kesahihan masing-masing item, bertujuan untuk memilih item-item yang benar-benar telah selaras dan sesuai dengan faktor yang ingin diselidiki. Cara perhitungan uji coba validitas item yaitu dengan cara mengkorelasikan setiap item dengan total skor.

  1. Uji korelasi antar faktor

Uji korelasi antar faktor dilakukan untuk mengukur kesahihan masing-masing faktor yang dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara faktor yang ada. Untuk mengukur korelasi antar faktor digunakan Koefisien Korelasi Product Moment dari Karl Pearson yang terangkai dalam program computer SPSS versi 15.00 for windows.

rxy

Rumus Korelasi Product Moment dari Karl Pearson :

Keterangan :

rxy       = koefisien korelasi item x dengan total item y.

xy        = jumlah hasil perkalian antara item x total item y.

x          = jumlah nilai setiap item.

y          = jumlah nilai konstan.

N         = jumlah subyek penelitian.

  1. 2.      Reliabilitas

Selain valid, suatu alat ukur yang digunakan dalam penelitian ilmiah juga harus reliabel. Reliabilitas mempunyai berbagai nama lain seperti keajegan, kestabilan, konsistensi, kepercayaan, dan sebagainya. Ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya adalah terdapat konsistensi hasil pengukuran apabila ada beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum  berubah (Saifuddin Azwar, 2003 : 4). Dalam penelitian ini untuk mengetahui reliabilitas digunakan rumus Alpha Cronbach dan pelaksanaannya dengan program computer SPSS versi 15.00 for windows.

α =

Rumus :

Keterangan :

α   =  reliabilitas

k   =  banyaknya belahan tes

sj  =  varians belahan

sx =  varians skor tes

Untuk mengetahui reliabilitas suatu instrumen penelitian dapat dilihat dari kaidah Guildford (KunconoTeguh, 2004 : 27) seperti yang dijelaskan pada tabel dibawah ini :

 

 

 

Kaidah Reliabilitas Guildford – Frutcher

Koefisien Reliabilitas Kriteria
> 0,9 Sangat reliabel
0,7 – 0,9 Reliabel
0,4 – 0,7 Cukup Reliabel
0,2 – 0,4 Kurang Reliabel
< 0,2 Tidak Reliabel

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Azwar, S (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Darmono & Ani M Hasan (2002). Menyelesaikan Skripsi Dalam Satu Semester. Jakarta : Grasindo.

Jones and Bartlett (1994). Manajemen Stress. Jakarta : EGC

dr. LA. Hartono (2007), Kesehatan Masyarakat STRES DAN STROKE. Yogyakarta : Kanisius.

W. J. S. Poerwadarminta, Pusat Bahasa Indonesia (2003). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Penelitian Kesulitan Belajar

Kesulitan Belajar Bahasa

Teori

Hakikat Bahasa dan Wicara

Bahasa merupakan suatu system komunikasi yang terintergrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca dan menulis. Suatu ekspresi bahasa dalam bentuk wicara merupakan bentuk penyampaian bahasa dengan menggunakan organ wicara.

Menurut Owens (1984:379) bahasa merupakan kode atau system konvensional yang disepakati secara social untuk menyajikan berbagai pengertian melalui penggunaan symbol-simbol sembarang dan tersusun berdasarkan aturan yang telah ditentukan.

Menurut ASHLA ( American Speech-Language-Hearing Assosiation) ada tiga komponen wicara, yaitu: (1) Artikulasi, (2) suara, dan (3) kelancaran. Berdasarkan tiga macam komponen tersebut, maka kesulitan wicara juga mencakup kesulitan dalam artikulasi, penyuaraan, dan kelancaran. Komponen artikulasi berkenaan dengan kejelasan pengujaran kata,; komponen suara berkenaan dengan nada, kenyaringan, dan kualitas wicara; dan komponen kelancaran berkenaan dengan kecepatan wicara.

Ekspresi bahasa memiliki enam komponen, yaitu (1) fonem, (2) morfem, (3) sintaksis, (4) semantic, (5) prosodi, dan (6) pragmatic. Fonem adalah satuan terkecil dari bunyi ujaran. Morfem merupakan unit terkecil dalam bahasa yang mengandung makna. Sintaksis berkenaan dengan tata bahasa, yaitu bagaimana kata-kata disusun untuk membentuk kalimat. Prosodi berkenaan dengan penggunaan irama yang layak, intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa. Dan pragmatic berkenaan dengan cara menggunakan bahasa dalam situasi social yang sesuai.

Perkembangan Bahasa Anak Normal

Ada tiga komponen bahasa, yaitu (1) isi, (2) bentuk, dan (3) penggunaan bahasa. Perkembangan bahasa terjadi secara berkesinambungan dari sejak berusia satu tahun hingga mampu mengintergrasikan ketiga komponen tersebut.

Perkembangan isi dan bentuk bahasa

Ada tiga hal yang perlu dibahas dalam perkembangan isi dan bentuk bahasa anak, yaitu: pembendaharaan kata, struktur semantic-sintaksis, dan variasi dan kompleksitas bahasa.

1)      Pembendaharaan kata

Pada usia dua tahun, anak biasanya telah mulai mengucapkan kata-kata dan memahami makna dari kata-kata tersebut. Pada umumnya mereka mulai berbicara satu kata dan menggunakan kata tersebut untuk berbagai maksud. Anak mempelajari kata-kata secara berangsur-angsur dengan mencoba kata-kata tersebut ke dalam berbagai situasi. Tentu saja, dalam melakukan percobaan tersebut, anak sering menggunakan kata-kata yang tidak tepat. Biasanya saat usia ini, penggunaan kata tunggal berlanjut hingga menjadi sintaksis. Sementara itu, anak mulai belajar tentang semantic dan struktur sintaksis untuk kalimat yang lebih kompleks.

Pada periode ini, peranan orang tua sangat penting, mereka secara terus-menerus berkomunikasi verbal maupun gestural dengan anak. Melalui percakapan, orang tua sering meminta anak untuk mengucapkan kata-kata yang telah dikuasai kepada anggota keluarga lainnya, sehingga dengan demikian anak memperoleh lebih banyak ulangan penguatan (reinforcement) yang memungkinkan anak untuk lebih banyak berbicara. Anak berkesulitan belajar sering tidak memiliki situasi keluarga semacam itu, sehingga anak kurang memoliki kesempatan untuk mencoba kemampuan mereka dalam berbicara. Oleh karena itu, banyak anak berkesulitan belajar yang perkembangan bahasanya terhenti pada tahap ini sehingga memiliki kesulitan untuk berbicara secara lebih baik.

2)      Struktur Semantik-Sintaksis

Isi semantic kalimat-kalimat permulaan adalah informasi tentang hubungan antar berbagai objek, terutama mencakup kegiatan, temat, dan orang. Pada tahap ini anak mulai menggunakan frasa seperti “mama saya” dan “dimana ayah saya”. Berdasarkan kombinasi sederhana tersebut, strusktur sintaksis kalimat akan berkembang secara bertahap.

Struktur bahasa permulaan yang lain adalah penggunaan kata-kata yang sama dalam situasi yang berbeda-beda dan dengan bermacam-macam makna.

3)      Variasi dan Kompleksitas

Variasi dan kompleksitas merupakan dua cirri penting dari bahasa anak-anak. Mengenal variasi, anak-anak disamping menambah pembendaharaan kata juga aturan-aturan penggabungan dari tiap-tiap pengetahuan bahasa yang dimiliki yaitu, isi, bentuk, dan penggunaan.

Banyak anak berkesulitan belajar yang lambat dalam mengembangkan kata-kata baru atau yang berbeda. Kompleksitas terjadi ketika kalimat-kalimat anak menjadi lebih panjang. Pada mulanya anak-anak menggabungkan hubungan semantic-sintaksis yang muncul dalam ucapan-ucapan paling awal. Selanjutnya, anak-anak menggabungkan kalimat-kalimat sederhana dengan kata penghubung.

Perkembangan penggunaan bahasa

Ada tiga hal yang perlu dibahas tentang penggunaan bahasa, yaitu fungsi, hubungan antar pemahaman dengan bicara, dan bahasa sebagai suatu proses sepanjang kehidupan.

1)      Fungsi

Fungsi merupakan aspek yang bermakna dalam bahasa, yaitu berbagai hal yang dilakukan oleh orang dengan bahasa. Aspek lain adalah keharusan melaksanakan berbagai aturan yang diperlukan pembicara untuk memilih bentuk dan susunan yang tepat untuk mencapai tujuan komunikasi.

Dari usia 3 tahun, anak menjadi lebih sadar akan banyaknya fungsi bahasa dan penggunaannya. Anak yg lebih banyak memperoleh kesempatan untuk melakukan percakapan akan memperoleh kesempatan lebih banyak pula dalam menggunakan kata, bentuk, dan gaya. Tetapi sayangnya, anak-anak berkesulitan belajar tidak memperoleh keuntungan karena mereka sering enggan melakukan percakapan, dan jika mereka melakukannya, interaksi tersebut hanya dalam waktu yang singkat dan cenderung pada tingkat percakapan yang rendah.

2)      Hubungan antara pemahaman dan percakapan

Para guru dan orang tua sepakat bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kata-kata yang didengar oleh anak-anak dengan yang mereka katakan. Sambil menyimak dan memahami perkataan orang lain, anak-anak mulai memahami makna dan maksud dari berbagai kata dan frasa. Selanjutnya, orangtua atau teman bicara yang komunikatif pada saat mendengar berbagai kata dan frasa tersebut bereaksi dengan cara memperbaiki bicara anak.

3)      Bahasa sebagai proses sepanjang kehidupan

Manusia dalam mengembangjan kemampuan berbahasa hamoir sepanjang kehidupan mereka. Selama seorang individu mendengarkan berbagai percakapan yang lebiih baik, maka individu tersebut akan memiliki kesempatan untuk menyesuaikan, memodifikasi, atau meningkatkan kemampuan mereka dalam berbahasa.

 

Kesulitan Belajar Bahasa dan Asesmennya

Kesulitan Belajar Bahasa

Menurut Lovitt (1989: 151), ada berbagai penyebab kesulitan belajar bahasa, yaitu :

Kekurangan Kognitif

Ada tujuh jenis kekurangan kognitif, yaitu (1) Kesulitan memahami dan membedakan makna bunyi wicara, (2) Pembentukan konsep dan pengembangannya ke dalam unit semantic, (3) Mengklasifikasi kata, (4) Kesulitan dalam Relasi Sistematik, (5) Kesulitan dalam memahami system semantic, (6) Transformasi Semantik, (7) Implikasi Semantik..

Kekurangan Dalam Memori

Hasil penelitian menunjukan bahwa anak berkesulitan belajar sering memperlihatkan kekurangan dalam memori auditoris. Kekurangan ini dapat menimbulkan kesulitan dalam memproduksi bahasa. Mereka sering memperlihatkan adanya kekurangan khusus dalam mengulang urutan fonema mengingat kembali kata-kata, mengingat symbol dan memahami hubungan sebab-akibat.

Kekurangan Kemampuan Melakukan Evaluasi/Menilai

Anak berkesulitan belajar sering memiliki kesulitan dalam menilai kemantapan atau keajegan arti suatu kata baru terhadap informasi yang telah mereka peroleh sebelumnya. Akibatnya anak mungkin menerima saja kalimat atau kata yang salah.

Kekurangan Kemampuan Memproduksi Bahasa

Hasil penelitian Idol-Meatas (Lovitt, 1989) menunjukkan bahwa bahasa anak-anak berkesulitan belajar mengandung lebih sedikit kata-kata bermakna daripada anak-anak yang perkembangan bahasanya normal.

Ada dua jenis kemampuan produksi bahasa, yaitu kemampuan produksi konvergen dan kemampuan produksi devergen.

Kekurangan Pragmatik

Anak berkesulitan belajar umumnya memperlihatkan kekurangan dalam mengajukan berbagai pertayaan, memberikan reaksi yang tepat terhadap berbagai pesan, menjaga atau mempertahankan percakapan dan mengajukan sanggahan berdasarkan argumentasi yang kuat.

Asesmen Kemampuan Berbahasa

Ada dua macam jenis asesmen, yaitu asesmen formal dan asesmen informal. Asesmen formal telah dibakukan sedangkan asesmen informal sering tidak dibakukan. Asesmen formal bahasa Indonesia belum banyak dikembangkan karena kajian tentang kesulitan belajar masih berada pada tahap permulaan. Untuk mengatasi kondisi yang menguntungkan tersebut, tes bahasa Indonesia digunakan sebagai alat asesmen. Tes konsep-konsep dasar ciptaan Boehm (Boehm Test of Basic Concept) (Boehm, 1970) merupakan salah satu intrumen asesmen formal yang dapat diadopsi di Indonesia khususnya anak usia sekolah permulaan. Tes tersebut dirancang untuk mengevaluasi pengetahuan dan pemahaman anak tentang konsep dasar kuantitas, ruang, waktu dan kombinasi aspek-aspek.

Asesmen informal atau evaluasi percakapan spontan, guru dapat melakukan percakapan dengan anak tentang berbagai hal yang disukai anak. Dengan demikian guru dapat mengetahui berbagai kesalahan bahasa yang dibuat oleh anak dan berdasarkan kesalahan tersebut guru dapat melakukan tindakan korektif atau interventif.

Remediasi

Menurut Lovitt (1989; 165), ada lima macam pendekatan remediasi bagi anak kesulitan belajar bahasa, yaitu :

  1. Pendekatan Proses
  2. Pendekatan Analisis Tugas
  3. Pendekatan Behavioral
  4. Pendekatan Interaktif-Interpersonal
  5. Pendekatan Sistem Lingkungan Total

 

Study Case

Identitas Subyek

Nama  : Aulia Nur Julianti (Anti)

Jenis Kelamin   : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir     : Jakarta, 8 Juli 2002

Usia   : 9 Tahun

Agama    : Islam

Nama Ayah    : Aguslim

Pendidikan Ayah   : SLTA

Pekerjaan Ayah    : Karyawan Swasta

Suku/Agama    : Sumatra / Islam

Nama Ibu     : Susilawati

Pendidikan Ibu   : Strata 1

Pekerjaan Ibu   : Guru Taman Kanak-kanak

Suku/Agama     : Jawa / Islam

Alamat    : Jalan Dewa Ujung Rt 012/07 No 1 Ciracas Jak-Tim

 

Gambaran Keluarga

S adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki seorang adik laki-laki. ibu subjek bekerja disebuah Taman Kanak-kanak di TK Negeri, menjadi seorang guru. Ayah subjek bekerja di sebuah perusahaan swasta. Hubungan antara S dengan adik dan orangtuanya sangat baik.

Orang tua S adalah orang tua yang baik dan perhatian terhadap anak-anaknya. Mereka selalu menggunakan waktu libur untuk dihabiskan bersama kedua anaknya. Orang tua S adalah orang tua yang dapat menerima kondisi anak pertamanya yang mengalami kesulitan bahasa. Ayah dan ibunya sangat berperan dalam membantu anaknya. Mereka terus berusaha membantu anaknya dengan mengikutkan S terapi-terapi dan rajin mencari informasi untuk membantu perkembangan anaknya, namun mereka tetap tidak melakukan pemaksaan terhadap S. S diberi kesempatan untuk melakukan hal yang ia inginkan.

Gambaran Pendidikan

Saat Usia 5 tahun subyek bersekolah di salah satu TK didaerah Jakarta Selatan yang sangat membantu karena disekolah tersebut merupakan sekolah inklusi yaitu sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar bersama dengan anak normal lainnya. Disana subyek dapat perhatian khusus sehingga S dapat mengembangkan  potensinya yang ada dalam dirinya walaupun memerlukan waktu yang lebih lama disbanding anak normal lainnya.

Pada usia memasuki sekolah dasar S pernah ditolak untuk masuk disekolah regular dikarenakan para pendidik disana tidak mau bersusah payah menangani anak berkebutuhan khusus. Akhirnya S mendapatkan sekolah swasta yang mau menerima S bersekolah disana. Adapun guru-guru disana sangat memperhatikan perkembangan masing-masing siswa terutama S. Sehingga S dan orang tuanya sangat nyaman. S mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah.

Saat ini subyek telah duduk dikelas 2. Dikelas 2 S mendapat kendala yaitu guru tidak memahami dan tidak mau berusaha untuk membantu S dikarenakan guru tersebut tidak memliki pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus. Namun, S tetap semangat dan tidak pernah mengeluh dengan kondisi tersebut. Hanya terkadang S merasa kelelahan dengan tugas/ PR yang seharusnya tugas tersebut diberikan untuk anak-anak yang normal.

Kedua orang tuanya telah menanamkan nilai keagamaan dengan baik pada S sehingga S tersebut mampu dan dapat menjalani pelajaran agama dengan baik dibandingkan anak-anak normal seusianya.

Ciri-Ciri

Awalnya tidak begitu terlihat, namun saat belajar S membutuhkan pengulangan hingga 2 sampai 5 kali dari anak-anak normal. S susah membedakan huruf d, b, p, g. S juga sulit untuk menyatukan kata-kata dan memahami kata-kata tersebut. Subjek juga suka menghilangkan beberapa suku kata.

Penyebab

Sebelumnya, S adalah anak yang periang dan terlihat lincah. Namun saat usia 9 bulan, subjek mengalami sakit panas tinggi selama satu minggu. Setelah sakitnya menurun, perkembangan S mulai terlihat lamban terutama dalam berjalan dan berbicara.

Penanganan yang Sudah Di Lakukan

S mengikuti Terapi Behavior, Terapi untuk keseimbangan dan Terapi Wicara di Lentera Insan, Depok. S mulai mnegikuti terapi keseimbangan tidak lama, hanya beberapa bulan saja. S mengikuti terapi behavior hingga kelas 2 SD, dan berhenti karena S mulai mengikuti kegiatan-kegiatan les di sekolahnya. Kini, S hanya mengikuti terapi dirumah yang dibantu oleh ibunya. Seperti belajar huruf-huruf dan merangkai kata-kata.

Selain S mengikuti berbagai terapi diluar rumah, sang ibu juga membantu S dengan setiap malam saat sebelum tidur, selalu meluangkan waktu untuk mengajak kedua anaknya bermain dengan huruf-huruf dan menggabungkan mejadi sebuah kata. Hal itu merupakan terapi yang diberikan sang ibu untuk S dirumah, dengan harapan S bisa mengalami perkembangan dalam kesulitannya.

Kesimpulan

S adalah anak yang periang dan lincah, namun perkembangannya mulai menurun sesaat setelah subjek mengalami sakit hingga suhu tubuh S panas tinggi. Subjek mengalami penurunan dalam perkembangan berjalan dan bicaranya. Awalnya gejala tidaklah begitu terlihat, namun saat di Taman Kanak-kanak, subjek sulit untuk belajar hingga harus melalukan pengulangan 2 hingga 5 kali, dan subjek pun sulit untuk membedakan antara huruf d, b, p, dan g. S mengikuti terapi keseimbangan, terapi wicara dan terapi behavior, namun semua terapi hanya dilakukannya tidak lama. Kini S hanya terapi di rumah dibantu dengan ibunya. Hingga kini, S masih mengalami kesulitan belajar bahasa dan orangtuanya masih terus mengupayakan untuk membantu anaknya.

Saran

Menurut kelompok kami, S seharusnya tetap diikutkan terapi wicara, karena S yang masih kelas 2 SD, masih bisa dilakukan penanganan khusus dan belum terlalu sulit untuk dilakukannya penanganan yang lebih.

TAT

Laporan Awal

PSIKODIAGNOSTIK IX ( TAT )

I.                   IDENTITAS SUBYEK

Nama : AS

Tempat/Tanggal lahir  : Jonggol, 9 April 1988

Jenis Kelamin : laki-laki

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Alamat : Jl. Jagakarsa no.5 Jakarta Selatan

Suku Bangsa  : Jawa-Sunda

Hobby : Mendengarkan musik, baca komik, internetan.

 

II.        IDENTITAS ORANG TUA

Nama Ayah  : R.B.S

Usia : 52 tahun

Pendidikan : D3

Pekerjaan : Karyawan Swasta

Suku bangsa  : Jawa

Agama : Islam

Alamat  : Jl.Bukitduri Puteran Jakarta – Selatan

 

Nama Ibu : N.F

Usia  : 46 tahun

Pendidikan  : SMA

Pekerjaan  : Ibu rumah tangga

Suku Bangsa  : Sunda

Agama  : Islam

Alamat  : Jl.Kemanggisan Depok

 

III.             IDENTITAS SAUDARA KANDUNG

            Subjek merupakan anak semata wayang di keluarganya. Subjek tidak memiliki kakak maupun adik. Walaupun begitu, subjek tidak merasakan kesepian.

 

IV.             ANAMNESA

Latar Belakang Keluarga

                        Subjek tinggal bersama neneknya di wilayah Kenari, Jakarta Pusat dikarenakan  orangtua telah bercerai ketika subjek duduk di bangku SMA kelas 2. Tetapi, subjek juga suka ke tempat ayah atau pun ibunya untuk menghabiskan waktu bersama. Walaupun ayah dan ibu subjek telah bercerai dan ia tinggal bersama neneknya, subjek tidak merasa sepi ataupun sendiri. Subjek termasuk orang yang dapat membawa diri dan enjoy terhadap hidupnya.

Riwayat pendidikan      

                        Saat ini subjek sedang kuliah di Universitas Persada Indonesia YAI, di daerah Jakarta Pusat, mengambil jurusan Teknik Informatika. Pernah menunda sekolah satu tahun ketika SMA (bukan karena tidak naik kelas). Pernah bersekolah di SMP Negeri 1 Cikini. Kemudian melanjutkan di SMA 4, menunda setahun, kemudian melanjutkan lagi ke SMAN 79 Jakarta.

Kehidupan Sosial

                        Subjek mengaku memiliki lumayan banyak teman. Subjek juga mengaku tipikal orang yang enggan menyapa dahulu, tetapi kalau sudah kenal biasanya teman-temannya yang merasa enjoy berteman dengannya.

Kehidupan Emosi

                        Subjek merupakan orang yang tidak pernah membuat pusing dirinya sendiri jika ada masalah. Ia selalu melihat ke sisi baiknya saja. Subjek mengaku jarang mengeluh, kecuali sedang bosan. Subjek merupakan orang yang santai, pemalas, ragu-ragu, berusaha selalu tenang dalam keadaan apapun. Ia menyukai tantangan, dan selalu berusaha untuk melebihi batas maksimal kemampuannya.

 

V.        OBSERVASI

                        Subyek terlihat sangat siap melakukan tes ini. Karena itu subyek aman terlihat tenang dan santai menghadapi kartu-kartu yang dihadapkan padanya. Subyek tidak terlihat bingung namun terkadang dalam bercerita subyek terdiam beberapa saat baru kemudian melanjutkan melanjutkan ceritanya. Subyek terkadang terlihat merubah posisi duduknya ketika akan mulai bercerita. Jarang keluar kata-kata yang meragukan dari subyek, dia sangat yakin ketika bercerita. Hal tersebut yang membuat komunikasi dari subyek dengan PP sangat baik.

 

VI.       INTERPRETASI KARTU

Kartu 1:

Ada gambar yang ada seorang anak, ehm yang lagi.. apa ya.. megang kayak semacam buku lagi memperhatikan tapi raut mukanya bingung. Disekitarnya ada kertas terus kaya semacam penggaris, itu kayaknya tas. Yang pasti sih lagi murung, lagi sedih, lagi menyesali diri. Hm.. Duduk sendirian, rambutnya rapi mungkin mau sekolah tapi bingung ga punya ongkos mungkin ga dikasih uang jajan sama orang tuanya. Mungkin dia habis melakukan kesalahan, dimarahi, dan tidak diberi uang jajan. Hmm.. kayak ada kertas, kayak taplak, kaya serbet juga yah tapi ga begitu jelas gambarnya. Yang pasti sih intinya ada seorang bocah lagi merenung, rambutnya rapi, bajunya rapi, mungkin baru mau pergi atau kemana tapi gak jadi, intinya sih itu.

Tt         : 1menit 40detik          Rt        : 2detik

Hero    : anak laki-laki

Tema   : kesedihan

Need   : n.rejection, n.harmavoidance, n. intragoression.

Press    : p.aggression (emosional)

IS        : dejection

Kartu 2 :

Gambar ini ada seorang perempuan umurnya mungkin sekitar dua puluhan lagi megang buku. Seperinya sih mahasiswa. Ia sedang meneliti untuk membuat tugasnya. Dia melihat di belakangnya ada latar belakang pertanian dan ada seorang ibu yang lagi hamil mungkin itu istri dari laki-laki yang ada di ladang itu. Hm, ada beberapa rumah atau kandang. Ada seekor kuda putih, kayanya sih putih soalnya gambar disini hitam putih, lebih terang jadi warna putih. Perempuan yang megang buku tadi, si mahasiswi itu, pake sweater tapi berkerah ada pita di tengah-tengahnya, rambut dikuncir dikepang satu. Sepertinya dia sedang ada tugas dari kuliahnya yaitu study tour ke pedesaan dan menelitinya. Lalu ia melihat ibu yang hamil tadi sedang bersandar di bawah pohon, membantunya dalam penelitian itu. Kemudian laki-laki, ga jelas lagi ngapain tapi dia ada di sebelah kuda yang putih tadi, tangannya lagi mungkiiin… ga megang apa-apa sih. Emm tangan kirinya ga begitu jelas kayanya sih lagi megang tali kudanya, yang pastinya sih di belakangnya ada ladang yang kayak laut.

Tt         : 2menit 47detik          Rt        : 3detik

Hero    : perempuan usia 20an

Tema   : study tour

Need   : n.achievement, n cognizance, n. understanding.

Press    : p.example

IS        : Ego ldeal Pride

Kartu 3 (GM):

Ada seorang bisa dibilang perempuan lagi duduk seperti duduk attahiyat sholat tapi dia ga ke kanan tapi ke kiri terus tangannya ditelungkup di kayak semacam sofa¸ ehm.. Sepertinya sih keliatan lagi lemas atau kemungkinan juga pingsan kepalanya menghadap ke bawah, di sekitar ibu itu, sebelah kirinya ada benda tapi ga jelas benda apaan. Seperti kunci tapi kayaknya bukan kunci. Rambut ibu itu seperti disanggul, umurnya ga tau karena mukanya ga keliatan. Hm.. Ya intinya sih ibu itu lagi cemas dengan apa yang terjadi dengan suaminya, mungkin. Dia habis mendengar kabar buruk yang terjadi yaitu suaminya kecelakaan. Dia merasa bersalah karena tidak ada di samping suaminya itu. Dia jatuh di dekat sofa sehingga seperti duduk attahiyat tapi posisi kaki ke kiri.

Tt         : 1menit 52detik          Rt        : 5detik

Hero    : seorang perempuan

Tema   : kecemasan

Need   : n.harmavoidance, n. intragoression

Press    : p. emosional, p.sex

IS        :

Kartu 4 :

Sepasang Kekasih seperti tahun tujuh puluhan, soalnya dandanannya model-model rambutnya tahun tujuh puluhan kayak di film-film gambar hitam putih. Laki-lakinya mungkin berumur sekitar tiga puluhan. Raut muka laki-lakinya lagi bete gitu kayak seakan-akan laki-laki itu mau pergi ninggalin perempuan, tapi yang perempuan itu mencegah, soalnya keliatan dari tangan perempuan yang sebelah kiri memegang pundak laki-laki supaya laki-lakinya gak pergi. Tapi muka laki-lakinya seperti mau meninggalkan perempuan itu. Sepertinya sih laki-laki itu udah bosan sama perempuannya itu jadinya dia mau pergi ninggalin perempuannya. Latar belakangnya kayak di rumah, disitu ada perempuan sedang menyilangkan kakinya menatap ke arah depan, kayaknya sih itu selingkuhan si laki-laki itu. Dan si laki-laki itu pergi bersama selingkuhannya.

Tt         : 1menit 42detik                      Rt        : 7detik

Hero    : laki-laki berumur tiga puluhan

Tema   : perselingkuhan

Need   : n.change, n. excitance, n.aggression (emosional), n. rejection,  n.autonomy                                    (kebebasan).

Press    : p.affiliation (emosional), p.aggression (fisik), p.dominance(paksaan,larangan),                              p.sex,

IS        : Jealousy, emotional change, dejection

Kartu 5 :

Sepertinya ada seorang ibu, ibu yang membuka pintu, sepertinya sih ga pengen masuk ke dalam hanya ngelihat keadaan di dalam ruangan itu. Karena kakinya ga masuk ke dalam dan kakinya juga justru condong seperti orang yang ingin melihat keadaan di dalam ruangannya dan ga pengen masuk gitu. Kemungkinan ini ruangannya ruang tamu atau kamar, entah itu anaknya atau siapa. Di dalam kamar itu yang jelas ada rak buku, lemari, meja, di atas meja ada vas bungan dan lampu, di lemari ada semacam rak buku lagi. Ada beberapa buku di atas rak. Ibu itu merasa ada pencuri yang ingin memasuki rumahnya, mengambil barang-barang, dan merusak apa yang ada makanya dia mengecek disekeliling.

Tt         : 1menit 30detik                      Rt        : 11detik

Hero    : seorang ibu

Tema   : waspada pencuri

Need   : n.cognizance, n.harmavoidance

Press    : p.accuisition, p.affiliation(destruktif)

IS        : distrust

Kartu 6 BM :

Ada seorang laki-laki yang sekitar umur tiga puluhan. Di sebelahnya ada ibunya. Ibu itu pandangannya kosong ke arah depan tidak ke arah laki-laki dan laki-laki di sebelahnya cenderung menatap ke bawah, sepertinya kemungkinan laki-laki itu memegang topi menampakkan penyesalan dan ibu itu matanya menatap kosong ke arah depan. Laki-laki itu membuat kesalahan sebelumnya. Ia habis bercerai dengan istrinya tetapi ga ngomong-ngomong sama ibunya itu. Ibunya mengetahui dari orang lain, makanya ibunya marah dan tidak ingin bicara sama anaknya itu.

Tt         : 1menit 36detik                      Rt        : 7detik

Hero    : laki-laki umur sekitar tiga puluhan

Tema   : perceraian

Need   : n.blameavoidance, n.harmavoidance, n.autonomy(kebebasan)

Press    : p.affiliation(emosional), p.aggression(emosional, fisik)

IS        : distrust, dijection, conflict

Kartu 7BM :

Ada dua orang laki-laki, yang satu paruh baya dan satu lagi umurnya sekitar tiga puluhan, kelihatan dari bentuk mukanya dan dandanannya. Laki-laki paruh baya menggunakan jas dan berdasi. Sedangkan laki-laki yang berumur tiga puluhan itu menggunakan seperti jas tapi berdasi juga. Keduanya saling berdekatan. Laki-laki paruh baya tadi menghadap ke laki-laki yang berumur tiga puluhan itu dan membisikkan sesuatu hal yaitu tentang pekerjaannya. Terjadilah obrolan yang serius antar laki-laki itu. Perusahaannya hampir gulung tikar dan beliau ingin laki-laki yang berumur tiga puluhan itu meneruskan membangun dan memperbaiki perusahaannya yang hampir gulung tikar itu.

Tt         : 1menit 59detik                      Rt        : 9detik

Hero    : Laki-laki paruh baya

Tema   : obrolan serius

Need   : n.achievement, n.accuisition(social), n.construction, n.succorance

Press    : p.deference(patuh)

IS        : ego ideal pride

Kartu 8 BM :

Seorang laki-laki muda umurnya sekitar delapan belasan. Ia menggunakan jas berdasi. Sepertinya laki-laki ini sedang mengingat kembali kejadian yang dialaminya dahulu. Ia mengingat pernah dioperasi ketika masih kecil. Sepertinya ia pernah memiliki penyakit yang sampai-sampai ia harus melakukan operasi. Ini terlihat dari latar belakang gambar yang terdapat anak laki-laki yang sedang berbaring di atas kasur dan disebelahnya terdapat dokter, soalnya menggunakan pakaian dokter.

Tt         : 2menit 17detik                      Rt        : 9detik

Hero    : laki-laki berumur sekitar delapan belas tahun

Tema   : mengingat kejadian dahulu

Need   : n.change, n.harmavoidance

Press    : p.physical danger

IS        : irregality

Kartu 9BM :

Ada sekelompok laki-laki yang menggunakan topi, rata-rata menggunakan topi semua sedang tiduran di atas rerumputan. Ada yang tengkurap, ada yang terlentang, ada yang miring, dan ada yang posisinya membelakangi saya, satunya lagi, lagi duduk. Lelaki terlentang sedang tidur di bagian pinggang laki-laki yang tengkurap. Tangan orang yang terlentang itu berada di pundak orang yang lagi tengkurap. Di belakang orang yang terlentang, lebih tepatnya di samping orang yang sedang tengkurap, ada orang yang tidur posisi miring. Orang-orang yang tiduran itu, kepalanya ditutupi topi semua, tapi orang yang membelakangi saya atau orang yang lagi duduk itu ga pakai topi sepertinya sedang beristirahat. Seperti pekerja yang sedang beristirahat tetapi mereka senang dan gembira karena mereka bisa berkumpul bersama. Mereka  menggunakan sabuk atau gesper, pakai jaket, pakai kemeja. Karena kalau dibilang tentara, ini bukan tentara. Ini adalah pekerja atau orang yang sedang berjalan jauh kemudian dia beristirahat. Latar belakangnya rumput-rumput.

Tt         : 2menit 5detik                        Rt        : 13detik

Hero    : para pekerja

Tema   : istirahat

Need   : n.affiliation (asosiatif)

Press    : p.affiliation(asosiatif), p.defference(patuh)

IS        : elation

Kartu 10 :

Ada seorang laki-laki dan perempuan berumur sekitar 30-40an. Laki-lakinya lebih tinggi dari perempuannya. Perempuan bersandar di dada laki-laki tersebut, dan laki-laki tersebut sepertinya mencium kening atau kepala perempuan itu. Berpelukan. Tangan kiri dari perempuan itu memegang dada laki-laki tersebut, mesra, saling menutup mata. Seakan-akan tidak saling ingin lepas satu sama lain. Gambar yang bagus, enak dilihat. Ini merupakan bentuk kegembiraan yang sangat-sangat romantis.

Tt         : 1 menit 14 detik        Rt : 10detik

Hero    : laki-laki berumur sekitar 30-40an

Tema   : kemesraan sepasang kekasih

Need   : n.affiliation(assosiatif), n.sex

Press    : p.affiliation(emosional), p.sex.

IS        : elation

Sejarah Psikologi Abnormal & Patologi

1. Masa awal Demologi Awal

Makhluk jahat menempati seseorang dan mengembalikannya sehingga sakit jiwa ‘exorcism’ adalah pengusiran roh jahat dgn ritual seprti doa, suara gaduh, dipaksa minum cairan yang tdk enak.

2. Masa Somatogenesis

(Hippocrates) penyakit jiwa disebabkan karena gangguan pada jasmani. Otak yang berisi kemampuan intelek dan intuisi sehingga kalau pikiran seseorang menyimpang berarti ada patologi di otak.

Klasifikasi gangguan mental : mania, melancholia, phrenitis.

Hippocrates yang menyatakan bahwa fungsi otak yang normal serta kesehatan mental bergantung pada keseimbangan cairan tubuh :

  1. Darah…. Temperamen mudah berubah
  2. Empedu hitam…. Melancholia
  3. Empedu kuning…. Cemas dan mudah tersinggung
  4. Phregma/lender…. Lambat/bodoh
  5. Masa Orang Sakit Jiwa dianggap sebagai tukang sihir

Abad ke-13 Eropa terjangkit wabah dan dua kali mencari kambing hitam -> tukang sihir (pada akhirnya dibunuh).

3. Masa Perkembangan Asylum

Eropa abad ke-19 terdapat penyakit lepra. Orang-orang sakit ditampung leprosium diubah menjadi Asylum (rumah sakit jiwa).

Bapak psikiater Amerika, Benjamin Rush, mengatakan bahwa gangguan jiwa disebabkan kebanyakan darah, maka secara periodic darah sipenderita ‘dikop’.

4. Masa Moral Treatment

Sudah ada atau lebih moralistic untuk gangguan jiwa. Phillipe Pinnel yaitu tokoh utama dalam gerakan perlakuan yang manusiawi terhadap pasien jiwa di Asylum. Pinel membuka rantai-rantai besi pasien di RS La Bicetre (Paris) – sejenis Asylum terbesar.

William Tuke mendirikan RS jiwa York Retreat di Inggris. Ia memberikan kepada pasien jiwa suasana yang sepi, religious, bekerja di kebun, istirahat, dan bercakap-cakap dengan perawat.

5. Masa mulanya pemikiran baru

  • Somatogenesis

Dr. Wilhem Griessinger (Jerman) mengatakan gangguan jiwa disebabkan oleh sebab fisik, sesuai pandangan somatogenesis Hippocrates. Emil Kraeplin membuat klasifikasi tentang sifat-sifat organic dari gangguan jiwa. Penyakit jiwa ada kecenderungan sekelompok symptom (gejala/sindrom). Setiap penyakit jiwa berbeda satu sama lainnya dalam hal asal usul, symptom, perjalanan penyakit, dan akibatnya. Kraeplin membagi penyakit jiwa menjadi dua :

-Dementia Praecox – skizofrenia – ketidakseimbangan kimia

-Psikosis manic depresif  – ketidakteraturan metabolism

  • Psikogenesis

Eropa Barat (Perancis dan Austria) akhir abad ke 18-19, gangguan jiwa dianggap karena kerusakan fungsi psikologis dan waktu di Eropa banyak hysteria (sekarang : gangguan konvensi). Mereka menderita ketidakmampuan fisik, seperti buta atau lumpuh tanpa sebab.

Anton Mesmer (Austria) mengatakan bahwa hysteria disebabkan psikologis da Vienna oleh Dr. Joseph Breuer mengatakan bahwa menghipnotis seseorang yang terkena hysteria serta membiarkan melakukan katarsis.

adapted by : PPDGJ

Labile

I didnt know, what happen to me..  This feeling didnt go and i am weak..      Everythings  that i have done, always fault.

Remembering….. i cannot erase in my own. Hate it..

It’s make me sad…

What happen? i dont know😥

I want to talk but no one can understanding me.. Yes, i’m like adolescent….. Stupid…

I wanna meet ,  i wanna kiss,  i wanna hug,  i wanna talk from the deepest in my heart that i miss someone who makes me ‘labile’…….

but it is impossible…

We never meet again until one of us succumb…

but promise that i’ll never be the same if we ever meet again….

**

The Best Song for me

.
Saigo no kisu wa
Tabako no flavor ga shita
Nigakute setsunai kaori

Ashita no imagoro niwa
Anata wa doki ni irun darou
Dare wo omotterun darou

You are always gonna be my love
Itsuka dareka to mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made

Tachidomaru jikan ga
Ugokidasou to shiteru
Wasuretakunai koto bakari

Ashita no imagoro niwa
Watashi wa kitto naiteru
Anata wo omotterun darou

You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made

You are always gonna be my love
Itsuka dareka to mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Mada kanashii love song
Now and forever

By : Utada Hikaru – First Love🙂

Perubahan Fisik Masa Remaja

1. Determinan Pubertas

  • Pubertas adalah perubahan cepat pada kematangan fisik yang meliputi perubahan tubuh dan hormonal, terutama terjadi pada masa remaja awal.
  • Faktor yang mempengaruhi yaitu kualitas makanan, genetik, kesehatan, & berat badan

♀ ditandai dengan menarche (mens yang pertama). Amenarche (tidak menstruasi) dialami oleh remaja yang mengalami anoreksia/atlet putri pada cabang olahraga tertentu (senam).

♂ ditandai mimpi basah atau tumbuh kumis

  • Perubahan hormonal,

– munculnya kumis/ melebarnya pinggul -> banjir hormon, untuk substansi kimiawi berkekuatan besar yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin & dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah

– Peran sistem endokrin melibatkan interaksi

a. hipotalamus, struktur yang terletak di bagian atas otak yang memantau kegiatan makan, minum, seks

b. kelenjar pituitari, mengendalikan pertumbuhan dan mengatur kelenjar lainnya

c. gonad, kelenjar kelamin (buah zakar pd anak ♂ dan indung telur pada ♀)

– Hormon yang paling penting dalam masa pubertas

a. androgen -> hormon seks ♂

contoh : testosteron adl jenis androgen yang berperan penting dalam perkembangan pubertas anak laki”, seperti perubahan fisik, perkm alat kelamin, & perubahan suara.

b. estrogen -> hormon seks ♀

contoh : ekstradiol, berperan penting dalam perkembanga pubertas anak perempuan, seperti perkm payudara, rahim, dan perubahan tulang.

2. Ciri Kematangan Seksual

  • tiga hal yang tampak pada ♂

a. tambah panjangnya penis (12-15tahun)

b. membesarnya testis (11-15tahun)

c. tumbuh rambut di wajah (12-15,5 tahun)

  • dua perubahan pada ♀

a. tumbuh rambut kemaluan (11-14tahun)

b. pertumbuhan payudara (11-15tahun)

3. Dimensi Psikologis pd Masa Pubertas

  • Citra Tubuh

Umumnya anak ♀ kurang puas dgn kondisi tubuh dan memiliki citra tubuh yang negatif (karena adanya lemak di tubuh mereka). Sedangkan anak ♂ lebih puas , karena tumbuhnya otot” yang terdapat pada tubuhnya.

  • Menarche

Reaksi (+) : telah mampu memiliki anak dan mengalami sesuatu yang membuat mereka menjadi wanita dewasa

Reaksi (-) : kerepotan (harus membawa pembalut), kekotoran, ketidaknyamanan fisik yang menyebabkan keterbatasan tingkah laku & menciptakan perubahan emosional.

  • Pada penelitian

Anak ♂ yang dewasa lebih cepat biasanya lebih (+), memiliki hubungan teman kelompok dengan baik dibanding mereka yang dewasa lebih lambat.

Anak ♀ yang dewasa lebih cepat, memiliki banyak masalah di sekolah, lebih populer diantara teman” wanitanya yang lain, cenderung puas dengan citra tubuhnya, cenderung untuk merokok, minum alkohol, depresi, dan memiliki gangguan makan.

  • Efek” pubertas

Remaja ♀ yang cepat matang rentan terhadap kehamilan & penyimpangan seksual, belum memiliki keterampilan berpikir dan aturan moral untuk melindungi diri dari masalah, mudah terbujuk rayuan remaja yang lebih tua, tubuh mereka tumbuh lebih cepat dari pemikirannya. SEMENTARA, remaja ♀ yang lambat matang sulit membentuk citra tubuh yang (+) karena kebanyakan teman sebayanya mulai berkembang lebih dulu dari dirinya.

.

.

from : Adolesence, Santrock

TYS

Perkenalan saya..

Kimy adalah seorang mahasiswi biasa di salah satu perguruan tinggi swasta di bilangan Diponegoro, Salemba, Jakarta..

Kimy mengambil Fakultas Psikologi.  Pernah sekolah di SMPN 7  dan SMAN 31 Jakarta…

Hobi menggambar (walau hasilnya selalu buruk, hehe) dan suka sesuatu hal yang berbau Jepang, dan kini mw icip” belajar bahasa Spanyol  (tapi tetep cinta Indonesia lho! hehe)…

Suka jalan”, apalagi dibayarin, hoho..

Tujuan Kimy membuat blog ini adalah sekedar sharing kepada pembaca apa yang diterima selama ini di kampus tercinta. Semoga bermanfaat untuk kita smua… hihi

Rasa”nya  cukup untk perkenalan kita.  Saya terima kritik dan sarannya..  Lebih terasa indah bila pembaca melampirkan saya job vacancy , hahai🙂

.

with love,

KIMY

Psiko Remaja

Teori-Teori  pada Psikologi Remaja :

1. Sigmund Freud, terbagi atas :

a. id = naluri

b. ego = berfungsi menghadapi tuntutan realitas

c. superego = cabang moral kehidupan

d. defense mekanism = metode yang tidak disadari – ego merusak realitas dan melindungi diri dari cemas

e. daerah erogen = memberikan rasa kepuasan tertentu (pada mulut atau anus)

2. Behaviourisme pada Burrhus Frederic Skinner,

a. menekankan studi” terhadap respon tingkah laku yang dapat diamati

b. pikiran yang sadar atau tidak, tidak diperlukan untuk menjelaskan tingkah laku dan perkembangan

3. Teori Belajar Sosial, menekankan tingkah laku, lingkungan, dan kognisi sebagai faktor utama dalam perkembangan

4. Teori Belajar Sosial Kognitif pada Albert Bandura, yaitu dengan cara :

a. belajar dengan mengamati orang lain

b.  melalui observasi (modelling dan imitasi)

5. Teori Ekologis oleh Bronfren Brenner, yaitu :

– Orientasi kepada lingkungan,

– Model-model teori : a. microsystem, lingkungan indivdu tinggal (keluarga, sekolah, dll)

b. mesosystem, hubungan antar sistem mikro/ antar konteks (contohnya; hubungan antara pengalaman keluarga dan pengalaman sekolah -> anak” yang ditolak orang tua dalam keluarga mungkin mengalami kesulitan mengembangkan hubungan yang positif dengan guru atua temannya)

c. exosystem, mencakup pengalaman dalam lingkungan sosial lain dimana individu tidak berperan aktif.

d. macrosystem, melibatkan budaya dimana individu hidup termasuk sikap dan ideologi budaya

e. chronosystem, mencakup pola” kejadian lingkungan dan transisi sepanjang perjalanan hidup dan kondisi sosial sejarah

6. Orientasi Teoritis Eklektik,

a. tidak satupun dari teori yang mampu menjelaskan secara menyeluruh perkembangan remaja yang kompleks

b. masing” teori mmberikan sumbangan pada pemahaman manusia mengenai remaja

from : Adolesence, Santrock

PD II Observasi

KELOMPOK VIII 

PSIKODIAGNOSTIK II (OBSERVASI)

Disusun Oleh :

Trias Priyanti W– 0824090407

Firman C Lois – 0624090344

Dwi Afreni – 0924070031

  

Kelas              : Senin 9.30-12.00

Ruang            : ACL 303

Dosen            : Ibu Bina Dwarawati, Psi

Perilaku Anak Autis Ketika Melakukan Terapi

di Yayasan Autisma Indonesia

 

Perilaku yang diamati:

Aktivitas anak autis yang bernama Muhammad Fauzan ketika dilakukan terapi  di Yayasan Autisma.

Definisi :

Terapi perilaku berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan.
Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA).

Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.

Tujuan :

Untuk mengamati segala perilaku atau aktivitas yang dilakukan si anak autis ketika sedang diterapi.

Kategori perilaku :

  1. Tidur-tiduran
  2. Menggaruk-garukkan kepala
  3. Menangis
  4. Tertawa
  5. Tersenyum
  6. Memegang mainan
  7. Jalan – jalan
  8. Menyendiri
  9. Lompat-lompatan
  10. Memukul
  11. Marah

Definisi tiap kategori:

  1. Tidur-tiduran : Meletakkan kepala di atas lantai
  2. Menggaruk-garukkan kepala : Menggerakkan tangan ke kepala secara berulang-ulang
  3. Menangis : mengeluarkan air mata
  4. Tertawa : membuka mulut dan mengeluarkan suara tanda bahagia atau senang
  5. Tersenyum : sejenis tawa yang tidak mengeluarkan suara
  6. Memegang mainan : menggerakkan tangan untuk meraih mainan dan memainkannya
  7. Jalan-jalan : menggerakkan kaki secara berulang-ulang
  8. Menyendiri : menjauh dari teman-temannya
  9. Lompat-lompatan : mengangkat kaki dan menghentakkannya di lantai secara berulang-ulang
  10. Memukul : mengetuk dengan sesuatu ke temannya
  11. Marah : menunjukkan raut wajah yang penuh dengan emosi

Metode pendekatan :

Where             :  Field Setting

What               :  Time Sampling, interval 10’ dalam waktu satu jam

How                 :  Non Partisipan

When               :  Immediate Recording

Tempat / tanggal pelaksanaan Observasi:

Tempat            :  Yayasan Autisma Indonesia

Jl. Cipinang Kebembem I  No. 6

RT014/RW124, Jakarta 13230.

Hari/Tanggal   : Jumat / 30 April 2010

Pukul               : 09.00-10.00 (satu jam)

Anecdotal Record :

Jumat, 30 April 2010 tepatnya di Yayasan Autisma Indonesia yang terletak di Jl.Cipinang Kebembem I No. 6 Ruang II kami mengamati seorang siswa autis yang bernama Muhammad Fauzan. Adik kecil yang kira-kira berusia tiga tahun itu menggunakan busana kaus lengan panjang yang berwarna krem yang dimasukkan ke dalam setelan celana panjang berbahan jeans.  Hasil observasi yang kami tangkap yaitu ia melakukan tidur-tiduran, tersenyum, dan marah sebanyak delapan kali selama satu jam. Untuk menggaruk – garukkan kepala dan jalan- jalan,  ia melakukan sebanyak dua belas kali. Empat kali menangis, tiga kali menyendiri, lima kali memegang mainan, dan enam kali tertawa dalam satu jam. Untuk memukul , ia melakukan sebelas kali dalam satu jam. Terakhir ia melakukan delapan belas kali lompat-lompatan.


Hasil Observasi  (Tabel Time Sampling) :

Kategori

10’

10’

10’

10’

10’

10’

Tidur-tiduran l ll ll lll 8
Menggaruk-garukkan kepala lll ll ll lll ll 12
Menangis l ll l 4
Tertawa l l l l ll 6
Tersenyum ll l ll l ll 8
Memegang mainan l ll l l 5
Jalan-jalan lll ll l lll lll 12
Menyendiri l l l 3
Lompat-lompatan lll llll ll llll lll ll 18
Memukul ll l ll l lll ll 11
Marah ll l l l ll l 8

Rating Scale :

Aspek (kurang)

1

2

3

4

5

6

7

Aspek (paling sering)

Tidur-tiduran Tidur-tiduran
Menggaruk-garukkan kepala Menggaruk-garukkan kepala
Menangis Menangis
Tertawa Tertawa
Tersenyum Tersenyum
Memegang mainan Memegang mainan
Jalan-jalan Jalan-jalan
Menyendiri Menyendiri
Lompat-lompatan Lompat-lompatan
Memukul Memukul
Marah Marah

Kesimpulan :

Aktivitas yang paling sering dilakukan Fauzan adalah lompat-lompatan, yaitu delapan belas kali dalam satu jam. Sedangkan aktivitas yang jarang ia lakukan adalah menyendiri, yaitu tiga kali dalam satu jam.